Kamis, 15 September 2011

Perangi Korupsi, Rombak Pendidikan Agama

Senin, 12 September 2011

SLEMAN (KRjogja.com) - Moralitas dan karakter menjadi masalah dasar bagi bangsa Indonesia dan korupsi yang semakin membudaya selama ini akibat lunturnya moralitas.

Hal tersebut terungkap dalam Sarasehan Agama dan Budaya Dalam Pengembangan Sosial dan Pendidikan hasil Kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan PT BP Kedaulatan Rakyat, Senin (12/9). Para pembicara yang hadir Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Musa Asy'arie, Mustofa W Hasyim dari kalangan sastrawan dan budayawan serta Suhadi Cholil dari Centre of Religion and Culture Studies (CRCS) UGM.

"Untuk permasalahan karakter, Yogyakarta harus mampu menjadi contoh bagi Indonesia. Kita semua bergarap lembaga pendidikan termasuk UIN Sunan Kalijaga mampu mejadi kawah candradimuka pembentukan karakter moral ini," kata Direktur Utama PT BP Kedaulatan Rakyat dr Gun Nugroho Samawi saat membuka sarasehan di Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.

Pendapat senada diungkapkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Musa Asy'arie bahkan mengaku prihatin budaya korupsi terjadi di negara yang agamis. "Kenapa negeri yang banyak agamanya ini justru mengalami keterpurukan karakter. Korupsi yang kini membudaya seakan sudah menjadi cara hidup untuk menyelesaikan persoalan," tandasnya.

Karena itu, perlu gerakan untuk membangun paradiga baru dalam masyarakat. Salah satunya dengan merombak pendidikan agama kepada geneari penerus bangsa. "Pendidikan agama tidak boleh anti realitas. Jika agama itu anti terhadap realitas, ini bisa menyebabkan anti budaya. Kalau sudah seperti ini, maka agama tidak akan bisa merubah masyarakat," terang Musa.

Solusi ini juga diperkuat oleh analisis para pembahas. Salah satunya Jadul Maula dari Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta.

"Budaya yang membangun karakter bangsa ini jangan diajuhkan dari agama. Begitu pula sebaliknya. Jadi, agama dan budaya harus manunggal atau mengalami persatuan. Manunggalin agama dan budaya inilah yang menjadikan manusia sadar diri dalam lintas dimensi," papar Jadul. (Dhi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar